Oleh Muhammad Ramadhanur Halim, S.H.I.
Umar bin Khattab pernah berkata, “Seandainya ada seekor unta yang terpeleset di Irak, aku takut Allah akan menanyakan mengapa aku tidak memperbaiki jalan untuknya.” Kalimat itu bukan hanya sebagai bagian puzle dari kisah sejarah, melainkan sebuah tamparan moral yang melintasi zamannya. Ia menggambarkan betapa seorang pemimpin sejati tidak pernah tidur nyenyak jika ada amanah rakyat yang terabaikan, bahkan sempat memikirkan dan gelisah terhadap seekor unta yang tergelincir di jalan.
Bayangan itu terasa begitu relevan ketika kita menatap wajah Aceh hari ini. Rakyat kecil masih bergulat dengan harga beras yang melonjak, biaya sekolah yang mencekik dan akses kesehatan yang sering kali hanya menjadi mimpi. Di tengah deru pembangunan yang sering dipamerkan, suara rakyat miskin nyaris tenggelam. Mereka bertanya dalam hati: adakah pemimpin yang resah seperti Umar, yang tidak bisa tidur karena memikirkan penderitaan rakyatnya?
Aceh pernah memberi dua pesawat untuk Republik Indonesia, sebuah simbol pengorbanan yang lahir dari hati rakyat. Namun kini, rakyat yang sama masih harus berjuang dengan ekonomi yang rapuh. Jalan-jalan desa yang rusak, anak-anak yang putus sekolah, serta keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan adalah ibarat “unta-unta yang terpeleset” di tanah kita. Pertanyaannya, apakah pemimpin hari ini merasa gelisah sebagaimana Umar bin Khattab?
Kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Umar mengajarkan bahwa: "seorang pemimpin harus merasa berdosa jika ada rakyat yang menderita." Tetapi di Aceh, sering kali penderitaan rakyat hanya menjadi angka statistik dalam laporan resmi. Mentalitas yang lahir bukan dari rasa takut kepada Allah, melainkan dari rasa takut kehilangan kursi kekuasaan yang dimiliki.
Rakyat Aceh yang masih hidup dalam keterbatasan ekonomi membutuhkan pemimpin yang berjiwa pelayan, bukan penguasa seperti layaknya seorang bos besar yang juga ingin dilayani maksimal. Mereka butuh sosok yang rela turun ke jalan, melihat langsung penderitaan rakyat dan merasa bersalah jika ada satu keluarga yang tidak bisa makan malam. Itulah standar emas kepemimpinan yang diwariskan Umar bin Khattab, standar yang kini terasa semakin jauh dari kenyataan.
Ketika rakyat miskin harus memilih antara membeli beras atau obat, ketika anak-anak harus bekerja di usia sekolah, ketika ibu-ibu harus menahan lapar demi memberi makan anaknya, semua itu ibarat unta-unta yang terpeleset di jalan Aceh. Namun, apakah pemimpin kita terjaga di malam hari memikirkan hal itu, atau justru terjaga karena memikirkan strategi politiknya agar tetap berkuasa?
Opini ini lahir dari suara rakyat kecil Aceh, yang masih menunggu hadirnya pemimpin dengan mentalitas Umar. Pemimpin yang tidak bisa tidur karena memikirkan rakyat, bukan karena memikirkan elektabilitas. Pemimpin yang merasa berdosa jika ada satu rakyat yang terabaikan, bukan yang merasa bangga dengan pencitraan kosong.
Kisah Umar bin Khattab adalah cermin. Jika kita bercermin hari ini, wajah kepemimpinan Aceh tampak buram. Rakyat miskin masih terpeleset di jalan kehidupan, sementara pemimpin sering kali berjalan di atas karpet merah. Jurang itu harus ditutup dengan keberanian moral, dengan kepemimpinan yang lahir dari hati, bukan dari ambisi.
Aceh tidak butuh pemimpin yang pandai berpidato, tetapi pemimpin yang resah melihat rakyatnya lapar. Aceh tidak butuh pemimpin yang sibuk membangun citra, tetapi pemimpin yang sibuk membangun jalan agar unta tidak terpeleset. Aceh tidak butuh pemimpin yang tidur nyenyak di istana, tetapi pemimpin yang gelisah di malam hari karena memikirkan nasib rakyatnya.
Kisah unta yang terpeleset adalah kisah tentang tanggung jawab. Ia mengajarkan bahwa: "sekecil apapun penderitaan rakyat, itu adalah amanah besar di hadapan Allah." Jika pemimpin Aceh hari ini tidak mampu merasakan kegelisahan itu, maka mereka telah kehilangan ruh kepemimpinan sejati.
Rakyat Aceh masih menunggu! Menunggu hadirnya pemimpin yang berjiwa Umar, yang tidak bisa tidur karena memikirkan rakyat miskin. Menunggu hadirnya pemimpin yang menjadikan penderitaan rakyat sebagai kegelisahan pribadi. Menunggu hadirnya pemimpin yang menjadikan amanah sebagai ibadah, bukan sebagai jalan menuju kekuasaan.
Dan selama penantian itu belum berakhir, suara rakyat kecil akan terus bergema: “Kami adalah unta-unta yang terpeleset di jalan Aceh. Adakah pemimpin yang peduli?”
M12H
